INDONESIA, BANGSA BIBIT UNGGUL

Posted in Opus on Juli 10, 2008 by saktiagus

INDONESIA, BANGSA BIBIT UNGGUL

Media Indonesia, 8 Maret 2008

Oleh AGUS SAKTI

Judul Buku : Kagum pada Orang Indonesia

Pengarang : Emha Ainun Nadjib

Penerbit : Progress—Yogyakarta

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : 56 halaman

Masih segar di ingatan kita mengenai perilaku arogan polisi negara bagian New South Wales, Australia, terhadap Sutiyoso. Mereka mendatangi hotel tempat Sutiyoso menginap di negara itu dan memintanya untuk memberikan keterangan mengenai peristiwa tewasnya lima wartawan Australia di Timtim (kini Timor Leste) pada 1975 silam yang dikenal sebagai Balibo Five. Tentu saja tindakan yang tak senonoh itu tidak dapat diterima karena Sutiyoso adalah pejabat negara yang resmi datang ke New South Wales atas undangan pemerintah setempat.

Lima bulan kemudian setelah kejadian itu, 6 Oktober 2007, ada kejadian serupa di Malaysia. Beberapa anggota anggota RELA (Relawan Rakyat Malaysia) merazia istri Atase Pendidikan Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, Muslinah Nurdin, ketika tengah berbelanja di sebuah mal. Yang di luar logika, ketika Muslinah memerlihatkan kartu identitas diplomat, yang notabene dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri Malaysia, tak mereka anggap. Baik Sutiyoso maupun Muslinah Nurdin, di mata bangsa lain adalah sama; orang Indonesia yang memiliki stigma negatif.

Baca lebih lanjut

ALTERNATIF KARYAWISATA PELAJAR

Posted in Pawon ide on Juni 23, 2008 by saktiagus

ALTERNATIF KARYAWISATA PELAJAR

Harian SURYA, 25 Juni 2008

Oleh AGUS SAKTI 

Musim liburan sekolah sudah tiba. Para pelajar pun tak sabar untuk mewujudkan kegiatan yang sebelumnya telah direncanakan dengan bulat. Beberapa rencana matang di antaranya adalah kegiatan karyawisata menuju tempat-tempat yang dianggap berpotensi akan sebuah pengetahuan anyar.

Demikian halnya dengan apa yang diprogramkan oleh TK Dharma Wanita Karang Dieng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Tempat wisata yang tak lain memuat miniatur Jawa Timur dan beragam mainan anak kecil dan dewasa ini, Jatim Park, adalah tempat tujuannya.

Hal ini dilakukan tidak sekadar rekreasi sekolah belaka. Akan tetapi, karyawisata yang dimaksud adalah rekreasi yang dibungkus dengan sebuah kegiatan yang sifatnya mendidik. Namun, refresing dan rekreasi melepas peluh sehabis ujian itu tak tercapai dengan baik, malah sebaliknya, kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan terbakar di Kota Batu pada Senin, 9 Juni kemarin.

Kejadian yang sama juga pernah terjadi di Kabupaten Jember. Tepatnya bulan Juli, 2002. Tidak jauh berbeda, bus Damri yang akan membawa rombongan siswa-siswi TK Theo Broma milik PTPN XII dan dewasa masuk sungai di Dusun Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Jember. Awalnya, mereka akan melakukan rekreasi ke pantai Pasir Putih di Tandjung Papuma.

Kegiatan karyawisata ini pada dasarnya adalah sebuah kegiatan yang dimimpikan para pelajar. Sebab, selain berfungsi sebagai kegiatan yang mendidik, pelajar juga bisa melakukan proses rekreasi guna merenggangkan saraf otak yang tegang lantaran kenyang mengonsumsi pelajaran selama satu semester.

Kegiatan karyawisata ini sejatinya membutuhkan seribu persiapan yang tidak sembrono. Mulai dari konsep yang matang hingga pelaksanaan teknis akomodasi di lapangan. Oleh karena itu, bagi para pelajar yang ingin melakukan kegiatan karyawisata serupa apa yang dilakukan TK Dharma Wanitan dan TK Theo Broma tidak perlu takut dan khawatir. Jika konsep dan persiapan teknis dilakukan dengan cermat kecelakaan dapat direduksi dan diantisipasi.

Mari cermati kejadian berikut: kecelakaan yang terjadi, baik TK Dharma Wanita dan TK Theo Broma, diakibatkan karena rem blong dan kapasitas penumpang yang di luar batas kewajaran. Jika hal ini dapat dikondisikan dengan baik sebelumnya, maka kecelakaan yang merenggut nyawa ini tidak perlu terjadi.

Jika kejadian ini tetap menjadi sebuah phobia tidak ada salahnya jika pihak sekolah melakukan sebuah kegiatan lain untuk mengisi ruang kosong di hari libur. Toh wisata sebenarnya juga bisa dilakukan di sekitar lingkungan sekolah, tidak harus ke luar wilayah, bahkan ke luar kota.

Wisata kemah, misalnya. Hal ini bisa menjadi alternatif menggantikan peran karyawisata. Selain itu, untuk menambah wawasan pelajar akan pengetahuan, kegiatan kemah kampus, pabrik, budaya, sejarah, dan parlemen akan lebih menarik jika dikemas sedemikian rupa.

Kegiatan ini dinilai lebih bermanfaat. Bagaimana tidak, berkemah akan melatih kemandirian siswa dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Selain itu, kegiatan ini lebih hemat biaya karena tidak merogoh kocek dalam-dalam. Dan, tidak ada risiko besar di jalan.[]

PERSELINGKUHAN DUA “STAKE HOLDER”

Posted in Pawon ide on Juni 23, 2008 by saktiagus

PERSELINGKUHAN DUA “STAKE HOLDER”

Kompas, 17 Juni 2008

Oleh AGUS SAKTI

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang akan diperingati saban tanggal 5 Juni ini masih menyisakan keprihatinan betapa pencemaran, pelanggaran, dan perusakan terhadap lingkungan masih menyelimuti masyarakat kita. Hal ini bisa dirasakan pada kota-kota besar di Jawa Timur seperti pencemaran pada air Kali Surabaya dan kematian berton-ton ikan di Bendungan Sutami, Malang. Berbagai elemen masyarakat saling berkompetisi untuk menyelesaikan permasalahan pekik ini. Fatwa MUI mengharamkan pembuangan limbah cair industri dan domestik ke Kali Surabaya adalah salah satu contohnya.

Nyata atau tidak perusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini tidak luput dari kontribusi manusia itu sendiri. Mereka apatis dan dengan acuhnya membuang sampah tidak pada tempatnya, ini contoh kecil. Walhasil, perilaku demikian pada gilirannya akan membuat lorong-lorong saluran air tersumbat ketika musim hujan, warna air kali menjadi coklat kehijauan, baunya busuk, banger tak karuan.

Beberapa pekan terakhir, warta pencemaran yang terjadi pada kualitas air Kali Surabaya menjadi bahan perbincangan hangat diruang sosial. Dalam rubrik ini (Kamis, 08/5), Prigi Arisandi mengetengahkan bahwa rantai kehidupan warga Surabaya, bisa dikatakan, bertalian erat dengan baik-buruknya kualitas air Kali Surabaya. Sebab, 95 persen air Kali Surabaya merupakan bahan mentah PDAM Kota Pahlawan itu. Dan, nasib 1,9 juta pelanggan PDAM Kota Surabaya berada di bawah baiknya kualitas air Kali Surabaya.

Potret pencemaran lingkungan yang terjadi pada ekosistem air juga dapat dilihat pada kejadian kematian berton-ton ikan di pertanian budidaya ikan jaring sekat di hulu Bendungan Sutami, Sumberpucung, Malang. Tidak jauh berbeda dengan pencemaran Kali Surabaya, pencemaran yang terjadi pada kematian ikan di Bendungan Sutami disebabkan karena pembuangan limbah industri ke sungai Brantas, sumber air Bendungan Sutami.

Gejala yang didapati dari pencemaran ini adalah warna permukaan air yang menjadi coklat kehijauan, baunya banger seperti bercampur adonan bahan kimia. Dan, banyak kepala ikan yang menyembul kepermukaan di susul dengan kematian setelah 10-12 jam kemudian.

Pelanggaran lingkungan juga terjadi pada ruang terbuka hijau (RTH) Kota Malang. Dalam kasus ini peran pemerintah mendapati sorotan besar. Bagaimana tidak, revitalisasi RTH yang sudah dicanangkan sejak tahun 2007, melalui Undang-Undang Tata Ruang No. 26 2007, sebesar 30 persen dari luas wilayah Kota Malang, 110, 06 km2 belum sepenuhnya terwujud. Bahkan, hingga saat ini hanya 2,8 persen yang terealisasi.

Demikian halnya dengan kondisi Taman Kunir yang disulap menjadi kantor Kelurahan Oro-Oro Dowo, yang baru diresmikan pada Rabu (30/4) kemarin. Sebelumnya juga banyak terjadi pelanggaran pada tata ruang kota. Beberapa di antartanya seperti; alih fungsi Hutan Kota APP Tanjung menjadi kawasan rumah mewah, alih fungsi jalur hijau Jalan Jakarta menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan sebuah rumah mewah, alih fungsi kawasan RTH dan pendidikan SNAKMA menjadi Malang Town Square (Matos), dan kasus yang masih hangat, alih fungsi stadion luar Gajayana menjadi MOG.

Inkonsistensi pemerintah

Tentu saja ini merupakan salah satu wujud perilaku inkonsistensi pemerintah karena sudah jelas bahwa peraturan tentang rencana tata ruang termaktub dalam pasal 20 ayat (5) huruf d perda Kota Malang No. 7 tahun 2001 tentang rencana tata ruang wilayah Kota Malang tahun 2001-2011. “Untuk lapangan olah raga yang ada sekarang sebisa mungkin dihindari untuk peralihan fungsi sebagai kawasan terbangun, dan hanya difungsikan sebagai RTH baik untuk tempat olah raga, taman kota, maupun sebagai peresapan air.”

Setiap kebijakan dalam keberjalanan siklus ekosistem lingkungan hidup tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi para stake holder. Dalam sebuah sistem sosial kita mengenal tiga genus stake holder,  yaitu; penguasa (pemerintah), pengusaha (swasta), dan masyarakat. Kapasitas stake holder tidak berada pada luar ekosistem, akan tetapi mereka merupakan bagian dari sebuah ekosistem. Oleh karena itu, gangguan yang dilakukan oleh stake holder pada sebuah ekosistem akan menimbulkan pencemaran atau perusakan.

Dari fenomena yang terjadi, baik pencemaran air Kali Surabaya, pelanggaran RTH Kota Malang dan alih fungsi kawasan tertentu menjadi kawasan terbangun, tidak bisa dilepaskan oleh peran dan fungsi stake holder. Bahkan, terlihat jelas perkawinan otoritas penguasa dan pengusaha menjadi kekuatan besar dalam membuat sebuah kebijakan–tentang proyek pembangunan, misalnya. Mereka seakan tidak menyadari bahwa salah satu di antara mereka menjadi korban, yaitu masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini seharusnya peran serta masyarakat perlu dilibatkan pada setiap pembulatan kebijakan. Peran serta masyarakat merupakan suatu kebijaksanaan yang tepat dan baik untuk dilaksanakan. Sebab, masyarakat yang potensial dikorbankan atau terkorbankan oleh suatu proyek pembangunan memiliki hak untuk dikonsultasikan (right to be consulted).

Meminjam istilah Arnstein, peran serta masyarakat adalah bagaimana masyarakat dapat terlibat dalam perubahan sosial yang memungkinkan mereka mendapatkan bagian keuntungan dari kelompok yang berpengaruh. Hal ini akan lebih mereduksi kekecewaan masyarakat karena mereka termasuk dalam lingkaran salah satu pihak yang diuntungkan. Dan, stabilitas kondisi lingkungan akan lebih terjaga karena masyarakat lebih peka dan merupakan kelompok primer yang bersinggungan langsung dengan lingkungan.

Dengan demikian, peran serta masyarakat dalam ajang pembuatan kebijakan terkait lingkungan hidup bisa menjadi bentuk dari kekuatan rakyat (citizen partisipation is citizen power). Di mana terjadi pembagian kekuatan (power) yang memungkinkan masyarakat yang tidak berpunya (the have-not citizens) yang sekarang dikucilkan dari proses politik dan ekonomi untuk terlibat kelak. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh stake holder diharapkan mampu menyelamatkan dan mengembalikan lingkungan ke dalam konteks ideal. Semoga![]