Archive for the Pawon ide Category

PERMAINAN TRADISIONAL BUKAN PERMAINAN USANG

Posted in Pawon ide on Oktober 19, 2008 by saktiagus

PERMAINAN TRADISIONAL BUKAN PERMAINAN USANG
Oleh AGUS SAKTI
Gatri ala gatri nagasari, ri
Riwul owal awul jenang katul, tul
Tolen alen-alen jadah manten, ten
Titenana besuk gedhe dadi apa, pa
Podheng mbako enak mbako sedheng, dheng
Dhengkok eyak-eyok dadi kodhok


Sepengagal bait lagu di atas biasanya digunakan sebagai instrumen pengiring permainan tradisional gotri. Selain permainan ini, cublak-cublak suweng juga memiliki instrumen lagu tertentu yang digunakan sebagai simbol bahwa permainan tersebut baru saja dimulai. Baik lagu pengiring permainan tradisional gotri maupun cublak-sublak suweng kini tak lagi sering dinyanyikan oleh anak-anak di halaman rumah, bahkan hampir tidak ada.
Alih-alih memeriahkan permainan itu, mengenal dan mengerti aturan main saja mereka tidak menahu. Saat ini mereka lebih mafhum mengoperasikan game komputer yang menyediakan seperangkat permainan yang lebih canggih. Game on line juga berhasil memikat hati mereka beradu tangkas satu dengan lawan permainan yang lain.
Permainan ini lebih banyak dikenal dengan model permainan yang mengedepankan aktivitas otak dari pada fisik. Padahal, permainan tradisional juga tidak melulu melakukan tindakan fisik, akan tetapi keterlibatan otak juga kerap dibutuhkan dalam permainan ini. Sebut saja permainan dhakon, permainan yang diadopsi dari filosofi bertani ini menuntut anak supaya berpikir bagaimana cara petani mendapatkan hasil sebanyak mungkin dan kemudian disimpan di dalam lumbung.
Selain itu, kemampuan menjalin relasi sosial dengan individu lain merupakan sebuah tuntutan pada permainan tradisional lainnya. Gobak sodor, misalnya. Warisan wong londo ini menghendaki anak untuk saling bertemu dan berkomunikasi dengan anak-anak yang lain. Mereka akan termotivasi berlatih banyak hal, antara lain melatih mereka melakukan kerjasama, menelurkan konsep strategi yang matang, tepa selira atau saling menghormati, berbalas budi dan percaya diri.
Dalam kajian sosial-budaya, permainan tradisional merupakan salah satu warisan budaya. Dan, warisan budaya memiliki keperluan untuk dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Unsur ini merupakan sebuah sarana sosialisasi yang efektif dari nilai-nilai yang dipandang penting oleh suatu masyarakat. Nilai-nilai ini kemudian dapat menjadi pedoman hidup, pedoman berperilaku dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat.
Rahma (1996) menyatakan bahwa di dalam permainan rakyat seperti: Gobak sodor, kitri-kitri, man dhoblang, dan lain sebagainya sebenarnya mengandung banyak nilai filosofisnya, yaitu yang terwujud dalam fungsinya sebagai suatu media untuk menurunkan pesan-pesan budaya kepada generasi berikutnya. Oleh sebab itu, pesan-pesan budaya inilah yang dimaksudkan dengan hakikat permainan tradisional. Baca lebih lanjut

SEGELAS SUSU DAN KECAKAPAN DIRI ANAK

Posted in Pawon ide on Oktober 18, 2008 by saktiagus

SEGELAS SUSU DAN KECAKAPAN DIRI ANAK

Oleh AGUS SAKTI

Bermain dan bermain merupakan dunia bagi anak-anak. Segala aktivitas kesehariannya tidak bisa dilepaskan dengan permainan. Apa pun bentuk perilaku yang dilakoninya adalah manifestasi dari aktivitas permainannya. Oleh sebab itu, belajar pun, bagi anak-anak, sebaiknya dilakukan dalam bentuk-bentuk permainan yang menyenangkan. Selain mereka belajar tentang sesuatu hal yang baru, mereka juga terhibur dengan kesibukannya melakukan permainan yang dalam hal ini merupakan sebuah proses pertumbuhannya.

Dalam permainan yang dimainkan oleh anak-anak, secara tidak langsung mereka akan melakukan gerakan-gerakan fisik yang berpengaruh positif terhadap perkembangan fisiologi biologisnya. Bermain engklek, misalnya. Dalam hal ini, dengan cara meloncat dari satu rumah (kotak berukuran persegi dalam permainan engklek) ke rumah yang lain akan berelasi positif terhadap pertumbuhan otot kakinya.

Selain membantu perkembangan motorik anak, bermain juga membantu fungsi kognisinya berkembang lebih cepat. Dengan permainan yang melibatkan proses berpikir secara tidak langsung juga merangsang perkembangan kognitifnya. Selain belajar mencari solusi untuk memecahkan masalah (problem solving) anak-anak juga dituntut untuk membuat keputusan secara cerdas dan cermat (making decision). Bermain gobak sodor, misalnya, selain dituntut mampu berlari cepat, pemain juga dituntut untuk membuat strategi supaya tidak mudah tertangkap lawan.

Ternyata, dalam kajian psikologi perkembangan anak, bermain tidak hanya membantu merangsang perkembangan motorik dan kognisi anak. Akan tetapi, bermain juga akan menuntut anak cermat dalam melakukan hubungan sosialnya dengan teman-temannya. Dalam hal ini, aspek psiko-sosial anak akan mulai terasah dengan proses pembelajaran yang berlangsung begitu saja tanpa disadarinya.

Perkembangan psiko-sosial erat taliannya dengan bagaimana anak menjalin relasi yang baik dengan yang lain. Dalam hal ini bisa termanifestasikan dengan cara anak dalam mengatur strategi dan memengaruhi temannya untuk melakukan dan mencapai tujuan yang sama. Kemudian dalam tahapan berikutnya adalah bagaimana seorang anak melakukan persaingan dengan temannya tanpa merusak harmonisasi hubungan mereka. Secara tidak langsung, dalam hal ini anak-anak sudah mulai menumbuhkembangkan iklim kompetisi dalam sanubari kecilnya yang kelak sangat dibutuhkan di dalam kelas, dunia kerja, dan masyarakat pada umumnya.

Baca lebih lanjut

MENDELUSIKAN GENERASI CINTA BUKU

Posted in Pawon ide on Juli 11, 2008 by saktiagus

MENDELUSIKAN GENERASI CINTA BUKU

Oleh AGUS SAKTI

Hari Buku Nasional yang diperingati tanggal 17 Mei bulan lalu menyisakan keprihatinan membaca belum membudaya pada masyarakat Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan imbas dari perkembangan keilmuan yang pesat dan segaris dengan kemajuan teknologi. Kemampuan indera penglihatan dan pendengaran dinilai kurang mumpuni menangkap dalil-dalil pembaharuan. Oleh karena itu dibutuhkan instrumen baru untuk mengambil saripatinya, yaitu membaca.

“Jika orang Jepang tidur sambil membaca, orang Indonesia membaca sambil tidur.” Adegium satiris ini bisa jadi menjelaskan betapa buruk budaya baca masyarakat kita.
Baca lebih lanjut

ALTERNATIF KARYAWISATA PELAJAR

Posted in Pawon ide on Juni 23, 2008 by saktiagus

ALTERNATIF KARYAWISATA PELAJAR

Harian SURYA, 25 Juni 2008

Oleh AGUS SAKTI 

Musim liburan sekolah sudah tiba. Para pelajar pun tak sabar untuk mewujudkan kegiatan yang sebelumnya telah direncanakan dengan bulat. Beberapa rencana matang di antaranya adalah kegiatan karyawisata menuju tempat-tempat yang dianggap berpotensi akan sebuah pengetahuan anyar.

Demikian halnya dengan apa yang diprogramkan oleh TK Dharma Wanita Karang Dieng, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Tempat wisata yang tak lain memuat miniatur Jawa Timur dan beragam mainan anak kecil dan dewasa ini, Jatim Park, adalah tempat tujuannya.

Hal ini dilakukan tidak sekadar rekreasi sekolah belaka. Akan tetapi, karyawisata yang dimaksud adalah rekreasi yang dibungkus dengan sebuah kegiatan yang sifatnya mendidik. Namun, refresing dan rekreasi melepas peluh sehabis ujian itu tak tercapai dengan baik, malah sebaliknya, kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan terbakar di Kota Batu pada Senin, 9 Juni kemarin.

Kejadian yang sama juga pernah terjadi di Kabupaten Jember. Tepatnya bulan Juli, 2002. Tidak jauh berbeda, bus Damri yang akan membawa rombongan siswa-siswi TK Theo Broma milik PTPN XII dan dewasa masuk sungai di Dusun Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Jember. Awalnya, mereka akan melakukan rekreasi ke pantai Pasir Putih di Tandjung Papuma.

Kegiatan karyawisata ini pada dasarnya adalah sebuah kegiatan yang dimimpikan para pelajar. Sebab, selain berfungsi sebagai kegiatan yang mendidik, pelajar juga bisa melakukan proses rekreasi guna merenggangkan saraf otak yang tegang lantaran kenyang mengonsumsi pelajaran selama satu semester.

Kegiatan karyawisata ini sejatinya membutuhkan seribu persiapan yang tidak sembrono. Mulai dari konsep yang matang hingga pelaksanaan teknis akomodasi di lapangan. Oleh karena itu, bagi para pelajar yang ingin melakukan kegiatan karyawisata serupa apa yang dilakukan TK Dharma Wanitan dan TK Theo Broma tidak perlu takut dan khawatir. Jika konsep dan persiapan teknis dilakukan dengan cermat kecelakaan dapat direduksi dan diantisipasi.

Mari cermati kejadian berikut: kecelakaan yang terjadi, baik TK Dharma Wanita dan TK Theo Broma, diakibatkan karena rem blong dan kapasitas penumpang yang di luar batas kewajaran. Jika hal ini dapat dikondisikan dengan baik sebelumnya, maka kecelakaan yang merenggut nyawa ini tidak perlu terjadi.

Jika kejadian ini tetap menjadi sebuah phobia tidak ada salahnya jika pihak sekolah melakukan sebuah kegiatan lain untuk mengisi ruang kosong di hari libur. Toh wisata sebenarnya juga bisa dilakukan di sekitar lingkungan sekolah, tidak harus ke luar wilayah, bahkan ke luar kota.

Wisata kemah, misalnya. Hal ini bisa menjadi alternatif menggantikan peran karyawisata. Selain itu, untuk menambah wawasan pelajar akan pengetahuan, kegiatan kemah kampus, pabrik, budaya, sejarah, dan parlemen akan lebih menarik jika dikemas sedemikian rupa.

Kegiatan ini dinilai lebih bermanfaat. Bagaimana tidak, berkemah akan melatih kemandirian siswa dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Selain itu, kegiatan ini lebih hemat biaya karena tidak merogoh kocek dalam-dalam. Dan, tidak ada risiko besar di jalan.[]

PERSELINGKUHAN DUA “STAKE HOLDER”

Posted in Pawon ide on Juni 23, 2008 by saktiagus

PERSELINGKUHAN DUA “STAKE HOLDER”

Kompas, 17 Juni 2008

Oleh AGUS SAKTI

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang akan diperingati saban tanggal 5 Juni ini masih menyisakan keprihatinan betapa pencemaran, pelanggaran, dan perusakan terhadap lingkungan masih menyelimuti masyarakat kita. Hal ini bisa dirasakan pada kota-kota besar di Jawa Timur seperti pencemaran pada air Kali Surabaya dan kematian berton-ton ikan di Bendungan Sutami, Malang. Berbagai elemen masyarakat saling berkompetisi untuk menyelesaikan permasalahan pekik ini. Fatwa MUI mengharamkan pembuangan limbah cair industri dan domestik ke Kali Surabaya adalah salah satu contohnya.

Nyata atau tidak perusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini tidak luput dari kontribusi manusia itu sendiri. Mereka apatis dan dengan acuhnya membuang sampah tidak pada tempatnya, ini contoh kecil. Walhasil, perilaku demikian pada gilirannya akan membuat lorong-lorong saluran air tersumbat ketika musim hujan, warna air kali menjadi coklat kehijauan, baunya busuk, banger tak karuan.

Beberapa pekan terakhir, warta pencemaran yang terjadi pada kualitas air Kali Surabaya menjadi bahan perbincangan hangat diruang sosial. Dalam rubrik ini (Kamis, 08/5), Prigi Arisandi mengetengahkan bahwa rantai kehidupan warga Surabaya, bisa dikatakan, bertalian erat dengan baik-buruknya kualitas air Kali Surabaya. Sebab, 95 persen air Kali Surabaya merupakan bahan mentah PDAM Kota Pahlawan itu. Dan, nasib 1,9 juta pelanggan PDAM Kota Surabaya berada di bawah baiknya kualitas air Kali Surabaya.

Potret pencemaran lingkungan yang terjadi pada ekosistem air juga dapat dilihat pada kejadian kematian berton-ton ikan di pertanian budidaya ikan jaring sekat di hulu Bendungan Sutami, Sumberpucung, Malang. Tidak jauh berbeda dengan pencemaran Kali Surabaya, pencemaran yang terjadi pada kematian ikan di Bendungan Sutami disebabkan karena pembuangan limbah industri ke sungai Brantas, sumber air Bendungan Sutami.

Gejala yang didapati dari pencemaran ini adalah warna permukaan air yang menjadi coklat kehijauan, baunya banger seperti bercampur adonan bahan kimia. Dan, banyak kepala ikan yang menyembul kepermukaan di susul dengan kematian setelah 10-12 jam kemudian.

Pelanggaran lingkungan juga terjadi pada ruang terbuka hijau (RTH) Kota Malang. Dalam kasus ini peran pemerintah mendapati sorotan besar. Bagaimana tidak, revitalisasi RTH yang sudah dicanangkan sejak tahun 2007, melalui Undang-Undang Tata Ruang No. 26 2007, sebesar 30 persen dari luas wilayah Kota Malang, 110, 06 km2 belum sepenuhnya terwujud. Bahkan, hingga saat ini hanya 2,8 persen yang terealisasi.

Demikian halnya dengan kondisi Taman Kunir yang disulap menjadi kantor Kelurahan Oro-Oro Dowo, yang baru diresmikan pada Rabu (30/4) kemarin. Sebelumnya juga banyak terjadi pelanggaran pada tata ruang kota. Beberapa di antartanya seperti; alih fungsi Hutan Kota APP Tanjung menjadi kawasan rumah mewah, alih fungsi jalur hijau Jalan Jakarta menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan sebuah rumah mewah, alih fungsi kawasan RTH dan pendidikan SNAKMA menjadi Malang Town Square (Matos), dan kasus yang masih hangat, alih fungsi stadion luar Gajayana menjadi MOG.

Inkonsistensi pemerintah

Tentu saja ini merupakan salah satu wujud perilaku inkonsistensi pemerintah karena sudah jelas bahwa peraturan tentang rencana tata ruang termaktub dalam pasal 20 ayat (5) huruf d perda Kota Malang No. 7 tahun 2001 tentang rencana tata ruang wilayah Kota Malang tahun 2001-2011. “Untuk lapangan olah raga yang ada sekarang sebisa mungkin dihindari untuk peralihan fungsi sebagai kawasan terbangun, dan hanya difungsikan sebagai RTH baik untuk tempat olah raga, taman kota, maupun sebagai peresapan air.”

Setiap kebijakan dalam keberjalanan siklus ekosistem lingkungan hidup tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi para stake holder. Dalam sebuah sistem sosial kita mengenal tiga genus stake holder,  yaitu; penguasa (pemerintah), pengusaha (swasta), dan masyarakat. Kapasitas stake holder tidak berada pada luar ekosistem, akan tetapi mereka merupakan bagian dari sebuah ekosistem. Oleh karena itu, gangguan yang dilakukan oleh stake holder pada sebuah ekosistem akan menimbulkan pencemaran atau perusakan.

Dari fenomena yang terjadi, baik pencemaran air Kali Surabaya, pelanggaran RTH Kota Malang dan alih fungsi kawasan tertentu menjadi kawasan terbangun, tidak bisa dilepaskan oleh peran dan fungsi stake holder. Bahkan, terlihat jelas perkawinan otoritas penguasa dan pengusaha menjadi kekuatan besar dalam membuat sebuah kebijakan–tentang proyek pembangunan, misalnya. Mereka seakan tidak menyadari bahwa salah satu di antara mereka menjadi korban, yaitu masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini seharusnya peran serta masyarakat perlu dilibatkan pada setiap pembulatan kebijakan. Peran serta masyarakat merupakan suatu kebijaksanaan yang tepat dan baik untuk dilaksanakan. Sebab, masyarakat yang potensial dikorbankan atau terkorbankan oleh suatu proyek pembangunan memiliki hak untuk dikonsultasikan (right to be consulted).

Meminjam istilah Arnstein, peran serta masyarakat adalah bagaimana masyarakat dapat terlibat dalam perubahan sosial yang memungkinkan mereka mendapatkan bagian keuntungan dari kelompok yang berpengaruh. Hal ini akan lebih mereduksi kekecewaan masyarakat karena mereka termasuk dalam lingkaran salah satu pihak yang diuntungkan. Dan, stabilitas kondisi lingkungan akan lebih terjaga karena masyarakat lebih peka dan merupakan kelompok primer yang bersinggungan langsung dengan lingkungan.

Dengan demikian, peran serta masyarakat dalam ajang pembuatan kebijakan terkait lingkungan hidup bisa menjadi bentuk dari kekuatan rakyat (citizen partisipation is citizen power). Di mana terjadi pembagian kekuatan (power) yang memungkinkan masyarakat yang tidak berpunya (the have-not citizens) yang sekarang dikucilkan dari proses politik dan ekonomi untuk terlibat kelak. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh stake holder diharapkan mampu menyelamatkan dan mengembalikan lingkungan ke dalam konteks ideal. Semoga![]