MENULIS KARENA UANG (Part I)

MENULIS KARENA UANG (Part I)

Oleh AGUS SAKTI

Menulis bagiku tidak sekadar merangkai kata dan mentata kalimat. Lebih dari itu, menulis, selain membutuhkan bahan mentah yang kudu diperoleh melalui membaca dan diskusi membuatku memiliki identitas baru. Kendati identitas itu belum jelas seperti apa, akau bisa merasakan bagaimana rasanya aku ketika menjadi aku saat menulis. Aku bukan seorang penulis, aku hanya seorang pembelajar eja kata, kalimat hingga paragraf.

Kata orang, menulis membuat orang terkenal. Namanya melambung bak selebritis di acara infotainment yang kerap ditayangkan kotak ajaib tiga kali sehari. Seperti meminum obat saja. Terkenal atau tidak, ini urusan buntut. Hemat Charter, salah satu wartawan Amerika, menulis itu seperti terapi diri. Berselayar kata yang kita tulis segaris lurus dengan keluarnya benda-benda masalah yang sempat memampatkan otak kita untuk berpikir jernih. Pun hati kita juga merasa unggah.

Meskipun tidak dimungkiri, saat aku menulis, aku juga ingin terenal seperti Goenawan Muhammad dengan tulisan-tulisan reflektifnya, Pramoedya Ananta Toer dan Soe Hoek Gie dengan tulisan perlawanannya. Atau tulisannya Tan Malaka yang sarat dengan aroma komunis. Ah, itu mimpi. Terlalu jauh aku bermimpi.

Sempat aku berwacana ihwal mimpi dengan teman sejawat. Dia membincangiku bahwa bermimpi itu baik. “Kamu akan termotivasi lantaran mimpimu itu, kendati konyol.” Demikian dia terangnya padaku.

Bermimpi itu membuat kita “telanjang bulat” akan keberadaan kita. Kita akan melihat siapa diri kita yang sebenarnya. Sebab, memimpikan menjadi penulis, misalnya, berarti kita telah memosisikan diri bukan seorang penulis. Oleh karena itu, motivasi menjadi seorang penulis dengan melihat diri kita bukan seorang penulis akan lebih efektif menggerakkan tangan kita menari di atas key board komputer. Begitu kira-kira tambah temanku mencoba meyakinkanku.

Sedikit kumerenung akan kebiasaanku menulis. Rasa-rasanya, jika hanya motivasi untuk menjadi penulis kemudian terkenal di kampus tidak cukup tenaga untuk membangkitkan libido menulisku ketika sedang bad mood. Akan tetapi, ada faktor lain yang biasanya mampu menggairahkanku menulis jika lagi malas.

Nah, faktor itu adalah honorarium. Ya, uang imbalan dari hasil tulisanku yang dimuat di media massa. Bagaimana tidak tergiur, jika sudah musim kemarau keuangan di akhir bulan, aku rajin beradu pandang dengan komputer yang juga hasil dari keringatku menulis. Sampai subuh pun aku tak mau kalah dengan layar putih berbentuk persegi merek salah satu nama orang Jepang itu.

Kadang, kuliah pun sering terlambat kalau aku sedang menulis sebuah artikel. Ini tidak sering kok, tapi teramat sering hingga terkadang hari-hari akhir musim kemarau pun aku jarang masuk kuliah. Apalagi kuliah dengan dosen yang tidak pernah menulis. Huh, kalau cuma berwacana, tukang ojek diperempatan pasar di kampungku tak kalah saing kalau berdebat ihwal kenaikan sembako.

Uang. Ya, uang yang aku harapkan. Tak terhitung berapa kali aku menghambakan diri pada uang. Bukannya aku penganut mazhab materialisme ala Karl Max. Bahasan ini terlalu tinggi bagiku. Akan tetapi, kebutuhan untuk memelihara hand phone dan berdiri tegak di atas budaya hedon lainnya telah berhasil membuat mataku hijau dan berani mati beradu pandang dengan layar monitorku.

Ihwal ini tidak pernah aku simpan rapat-rapat di buku diary-ku. Malah, kerap kali aku mengampayekan diri menulis hanya bertujuan untuk mencari uang. “Berarti kamu tidak pernah ikhlas ya kalau menulis?!” demikian kira tanggapan banyak orang ketika aku membuka diri.

Ikhlas, bab ini juga berhasil membuatku berpikir dua, hingga seribu kali ketika aku memulai kembali untuk belajar menulis. Tapi, …. (berlanjut)

Iklan

4 Tanggapan to “MENULIS KARENA UANG (Part I)”

  1. jd km ga punya idealisme ya?

  2. Idelisme saya adalah proses mengapai idealisme itu sendiri. Trims ya commentnya

  3. Pak, nulis itu menyesatkan; menipu pembaca, mengaburkan pesan kita, tapi juga bikin kaya. hahahaha….
    tidak nulis justru lebih berbahaya, dapat meredupkan peradaban, menumpulkan nalar, dan mematikan generasi yang akan datang.

    salam..

  4. setuju bos, menulis itu bisa bikin kaya; kaya pengetahuan. masalah berbaha dan meredupkan itu substantif. yang menjadi catatan, saat ini, hampir di kebanyakan wilayah, tidak banyak orang yang suka menulis. itu saja.
    trims komennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: