SEGELAS SUSU DAN KECAKAPAN DIRI ANAK

SEGELAS SUSU DAN KECAKAPAN DIRI ANAK

Oleh AGUS SAKTI

Bermain dan bermain merupakan dunia bagi anak-anak. Segala aktivitas kesehariannya tidak bisa dilepaskan dengan permainan. Apa pun bentuk perilaku yang dilakoninya adalah manifestasi dari aktivitas permainannya. Oleh sebab itu, belajar pun, bagi anak-anak, sebaiknya dilakukan dalam bentuk-bentuk permainan yang menyenangkan. Selain mereka belajar tentang sesuatu hal yang baru, mereka juga terhibur dengan kesibukannya melakukan permainan yang dalam hal ini merupakan sebuah proses pertumbuhannya.

Dalam permainan yang dimainkan oleh anak-anak, secara tidak langsung mereka akan melakukan gerakan-gerakan fisik yang berpengaruh positif terhadap perkembangan fisiologi biologisnya. Bermain engklek, misalnya. Dalam hal ini, dengan cara meloncat dari satu rumah (kotak berukuran persegi dalam permainan engklek) ke rumah yang lain akan berelasi positif terhadap pertumbuhan otot kakinya.

Selain membantu perkembangan motorik anak, bermain juga membantu fungsi kognisinya berkembang lebih cepat. Dengan permainan yang melibatkan proses berpikir secara tidak langsung juga merangsang perkembangan kognitifnya. Selain belajar mencari solusi untuk memecahkan masalah (problem solving) anak-anak juga dituntut untuk membuat keputusan secara cerdas dan cermat (making decision). Bermain gobak sodor, misalnya, selain dituntut mampu berlari cepat, pemain juga dituntut untuk membuat strategi supaya tidak mudah tertangkap lawan.

Ternyata, dalam kajian psikologi perkembangan anak, bermain tidak hanya membantu merangsang perkembangan motorik dan kognisi anak. Akan tetapi, bermain juga akan menuntut anak cermat dalam melakukan hubungan sosialnya dengan teman-temannya. Dalam hal ini, aspek psiko-sosial anak akan mulai terasah dengan proses pembelajaran yang berlangsung begitu saja tanpa disadarinya.

Perkembangan psiko-sosial erat taliannya dengan bagaimana anak menjalin relasi yang baik dengan yang lain. Dalam hal ini bisa termanifestasikan dengan cara anak dalam mengatur strategi dan memengaruhi temannya untuk melakukan dan mencapai tujuan yang sama. Kemudian dalam tahapan berikutnya adalah bagaimana seorang anak melakukan persaingan dengan temannya tanpa merusak harmonisasi hubungan mereka. Secara tidak langsung, dalam hal ini anak-anak sudah mulai menumbuhkembangkan iklim kompetisi dalam sanubari kecilnya yang kelak sangat dibutuhkan di dalam kelas, dunia kerja, dan masyarakat pada umumnya.

Begitu uniknya dunia anak-anak. Dunia bermain di mana hal ini tidak segaris lurus dengan dunia orang dewasa, bahkan manula. Bagaimana tidak, dunia anak-anak masih bersih dari apa-apa yang bersifat normatif dan nilai-nilai social yang telah disepakati. Mereka bebas melakukan banyak varian perilaku untuk menumbuh kembangkan potensi mereka tanpa gangguan. Mengapa? Sebab, dalam hal ini situasi demikian merupakan salah satu tahapan yang harus dilalui mereka untuk menjalankan proses pertumbuhan.

Perkembangan anak yang meliputi pertumbuhan fisik, kognitif, psiko-sosial dan kemampuan abstrak lainnya mengalami proses yang lebih cepat dari pada perkembangan yang terjadi pada fase dewasa. Bahkan, beberapa ahli psikologi mengetengahkan bahwa pertumbuhan kepribadian individu sangat bertalian erat dengan proses pertumbuhannya pada fase kanak-anak.

Demikian cepatnya pertumbuhan yang terjadi pada fase kanak-anak, ini segaris dengan betapa berharganya fase yang tengah dijalani anak-anak untuk keperluan pertumbuhan fisik dan psikis mereka. Maka, tidaklah berlebihan jika asumsi untuk tidak terlalu banyak mengintervensi anak dalam keduniaan mereka bisa dibenarkan. Sebab, apa pun bentuk intervensi kita terhadap anak akan berpengaruh pada perkembangan mereka.

Seperti seorang anak yang sedang bermain memanjat jendela berteralis, misalnya. Mereka akan terus menggapai tempat yang lebih tinggi dengan menjulurkan tanggannya ke atas. Bagi orang tua, bisaanya mereka akan khawatir dengan kondisi yang demikian. Takut terjatuh, keseleo, hingga patah tulang merupakan beberapa turunan dari rasa khawatir itu. Ini merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, tidak seharusnya orang tua langsung memberikan hukuman (punishment) kepada anak-anak.

Jika dipelajari lebih lanjut, rasa kekhawatiran orang tua itu tidak seharusnya dimunculkan kendati hal ini merupakan sebuah kewajaran. Jika kekhawatiran ini mendominasi, subyektivitas dari ego orang tua akan berperan aktif dalam setiap langkah perilakunya. Padahal, ada sikap yang lebih bijaksana dari pada itu. Yaitu dengan cara mengarahkan anak. Dalam contoh tersebut, memegangi tubuh anak atau memberikan instruksi edukatif lainnya merupakan salah satu solusinya.

Hukuman yang diberikan oleh orang tua akan mengerdilkan rasa keberanian anak untuk melakukan tindakan kreatif. Rasa ketakutan ini pada tahapan selanjutnya akan membekas menjadi kecemasan yang secara simultan dapat muncul sewaktu-waktu. Dalam analisis Freud, kecemasan yang dialaminya akan berpengaruh pada setiap perilakunya.

Distorsi Pemahaman

Pola asuh orang tua yang tidak suka anaknya bermain aktif –dalam hal ini sejatinya adalah belajar– bisaanya disebabkan oleh rasa ketakutan mereka dalam menanggung akibat dari hasil permainan itu. Ketakutan orang tua ketika anaknya jatuh dari jendela, ketakutan ibu jika anaknya menumpahkan segelas susu ketika mencobanya menuangkan susu tersebut pada gelas yang lain, ketakutan ibu ketika anaknya kotor ketika bermain dengan tetangga, dan ketakutan-ketakutan lainnya yang lebih banyak memiliki substansi normatif dan temporal.

Padahal, sejatinya ketakutan seperti ini tidak diperlukan dalam upaya mendukung perkembangan seluruh aspek fisik dan psikis anak. Dalam kehidupan nyata, kerap kali orang tua memakai logika terbalik dalam memandang hal ini. Bagaimana tidak, orang tua lebih mementingkan harga susu yang tumpah dan kebersihan meja dari pada proses belajar problem solving anak untuk membersihkan meja. Orang tua juga lebih mementingkan baju dan kulit anak kotor ketika bermain dengan anak tetangga ketimbang seberapa cakap kemampuan anak dalam menjalin hubungan sosial dengan individu lain.

Tentu saja harga segelas susu tidak sebanding dengan harga kecerdasan dan pertumbuhan kognitif anak. Demikian halnya dengan harga sabun cuci untuk membersihkan baju anak yang kotor dengan kecakapan anak dalam melakukan interaksi social. Logika seperti ini seharusnya perlu untuk dipahami. Sebab, perkembangan yang terjadi pada fase kanak-kanak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan pribadi anak ketika usia dewasa kelak.

Jika ketika kecil mereka sudah sering mengalami trauma akibat bentakan dan segala aturan yang kaku dari turunan pola asuh orang tua, maka jangan disalahkan jika kelak anak Anda kurang memiliki rasa percaya diri untuk berkespresi, tidak memiliki pribadi yang kreatif untuk solusi inovatif, tidak bisa melakukan hubungan social yang baik, bahkan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali dengan bantuan Anda. Sekarang, mahal mana segelas susu dengan kecapakan anak untuk bertanggingjawab pada setiap perbuatannya?

Iklan

2 Tanggapan to “SEGELAS SUSU DAN KECAKAPAN DIRI ANAK”

  1. aslkm,
    Sebelumnya maaf ini bkn koment tp cuma pengen sharing aja cz aq g px alamat email pean.Ketika aq bel nulis sering kesulitan membuat judulnya.Tulisan sudah jadi tapi bingung mau kasih judul apa.Gimana sich cara mencari judul yang pas buat tulisan.Apakah judul itu harus mewakili smua isi(kan sulit) atau di cari yang paling menarik menarik dari isi kemudian dibuat judul.Thanks B4 atas jawabannya dan smua motivasinya…! Aq IRI tulisan anda kok bagus smua sich……….!!!

  2. benar, membuat judul itu kudu mewakili isi tulisan. dan, yang harus diperhatikan itu; judul harus dibuat semenarik mungkin. selain merangsang pembaca untuk melahap tulsan kita, judul yang menarik kadang juda dapat mengambil hati redaksi surat kabar. he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: