SADAR LINGKUNGAN: SEBUAH UNSUR DALAM KESEMPURNAAN IBADAH PUASA

SADAR LINGKUNGAN: SEBUAH UNSUR DALAM KESEMPURNAAN IBADAH PUASA

Oleh AGUS SAKTI

Dari dua belas bulan yang ada dalam agama Islam, ada satu bulan yang paling populer dan kerap kali dielu-elukan oleh para orang muslim. Pada bulan yang “satu” ini, mereka berlomba-lomba menambah dan meningkatkan amal baiknya. Ibarat sebuah mall, bulan ini merupakan agenda cuci gudang, obral, dan diskon besar-besaran. Jika ada orang yang tidak berperan aktif pada bulan ini maka orang tersebut merupakan salah satu orang yang merugi. Ramadhan, demikian nama bulan itu. Untuk menyambutnya, banyak orang membuka bibirnya dengan kalimat; Marhaban yaa Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan suci, bulan penuh hikmah karena segala perilaku, amal baik, dan ibadah kita akan dilipatgandakan. Bahkan, tidur pun, asal tetap menjalankan praktik ubudiyah yang sudah ditetapkan, dianggap ibadah. Momentum ini seharusnya mejadi kesempatan kita bersama untuk melakukan upaya reflektif dan kontemplatif pada Tuhan guna memohon ampunan dan rida-Nya.

Dalam sebuah catatan lama, ada sebuah risalah yang mencoba memberikan ilustrasi bahwa andaikan manusia mengetahui tentang manfaat, barokat, maunah, dan segala kabar baik yang tergabung dalam bingkai Ramadhan, niscaya mereka akan memohon kepada Tuhan untuk merubah seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan. Risalah ini memberikan sebuah konklusi betapa bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa.

Bagi umat Islam yang menjalankan seluruh ibadahnya, termasuk puasa, dengan tulus dan ikhlas mereka akan diganjar oleh Tuhan. Jika mereka memohon ampunan, mereka akan disucikan dari segala dosa, sehingga pada tahapan selanjutnya mereka akan kembali bersih bak seorang bayi yang baru keluar dari rahim seorang ibu. Momen inilah yang biasa dikenal dengan hari raya iedul fitri.

Peran khalifah dan abdillah

Sejatinya, manusia diciptakan oleh Tuhan mengembam beberapa tanggung jawab yang harus dilakukan dengan baik. Di antaranya adalah tanggung jawab sebagai khalifah (pemimpin) dan tanggung jawab sebagai abdillah (hamba Allah). Ibadah puasa pada bulan Ramadhan diperintahkan—salah satunya—supaya manusia sadar dan memahami peran dan posisi ini.

Posisi khalifah dan abdillah ini harus berjalan dengan seimbang. Adakalanya manusia itu harus sadar ihwal tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan adakalanya manusia tidak boleh lupa bahwa dia juga mengemban amanah untuk selalu mengabdikan dirinya kepada Tuhan, abdillah.

Bisa dibayangkan, seandainya peran khalifah dan abdillah tidak berjalan dengan seimbang maka muslihat nafsu dan kekuatan ego untuk menguasai keberadaan dirinya akan lebih tinggi. Sebut saja peran abdillah yang paling dominan dalam kesehariannya, orang seperti ini akan melulu menjalin hubungan “romantis” dengan Tuhannya, hablul min Allah. Dia kurang memiliki kesadaran bahwa sejatinya dalam mengarungi hidup manusia membutuhkan jalinan komunikasi antar sesama manusia, alam semesta, dan tentu saja hubungan baik dengan Tuhannya.

Peran khalifah yang diemban manusia juga harus dijalankan dengan sempurna. Hal ini erat taliannya dengan ikatan interaksi manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam, hablul min al-nas dan hablul min al-alam. Keberhasilan manusia menjalin hubungan “mesra” dengan tetangga, kolega, kerabat, sanak famili, dan masyarakat merupakan salah satu keberhasilan mengemban sebuah tugas sosial sebagai khlaifah.

Kesalehan lingkungan

Selama ini, peran abdillah sering ditafsiri dengan perbuatan ubudiyah yang kenceng, salat berjamaah di masjid, tadarrus dan berzikir siang-malam, meningkatkan pengerjaan salat sunnah, dan beristighfar memohon ampunan sebanyak-banyaknya. Kemudian ketika melaksanakan peran sebagai khalifah, kerap kali kita hanya berpaku perbuatan yang melulu peduli terhadap sesama. Menyantuni anak yatim di panti asuhan, memberikan takjil (hidangan buka puasa) untuk anak jalanan, bersedekah menolong saudara yang membutuhkan dan seabrek agenda sosial lainnya. Seolah-olah jika kita lupa atau sengaja tidak bersedekah kepada orang lain kita dianggap “sesat”.

Hubungan dengan alam kerap kali dinomorduakan. Peduli terhadap lingkungan, misalnya, masih menjadi agenda belakang untuk segera direalisasikan. Membuang putung rokok setelah buka puasa masih tetap sembarangan, tidak pada tempatnya. Setelah berbelanja di Matos dan MOG, misalnya, dengan acuhnya mereka membuang kertas/struk belanja dan plastik/kresek di tempat terbuka. Kondisi lingkungan sekitar pun tidak berbeda dengan sebelumnya, kotor.

Demikian halnya dengan kepedulian manusia terhadap lingkungan air. Jika ibu-ibu rumah tangga tetap membuang sampah domestik dan para pengusaha pabrik bersikeras membuang limbah cair ke aliran sungai di Bendungan Sutami, Sumber Pucung, Malang maka warna permukaan air tidak akan menjadi coklat kehijauan dan baunya banger seperti bercampur adonan kimia. Seharusnya mereka juga harus dianggap melanggar aturan puasa. Sebab, tujuan puasa adalah supaya manusia mampu memahami peran dan posisi sebagai khalifah. Dan, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan salah satu turunan dari tugas tersebut, yaitu hablul min al-alam.

Praktik menjalankan peran menjadi abdillah dengan kesempurnaan akan mengantarkan manusia menjadi sebuah pribadi dengan kesalihan diri yang cakap. Namun, melulu kesalehan diri yang terjadi tidak akan mampu mendominasi berkat, rahmat, dan maunah yang sudah dijanjikan Tuhan. Sebaliknya, kesalihan sosial dan kesalihan alam akan segera didapatinya ketika manusia berhasil menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai khalifah. Dan, jika kedua kesalihan tersebut dikawinkan, adalah sebuah keniscayaan bagi mereka untuk mendapati janji Tuhan. Selain itu, mereka akan mengakhiri puasanya dengan kembali seperti bayi yang baru lahir.

Mudah-mudahan, pada praktik puasa Ramadhan kali ini kita tidak hanya sibuk diri dengan kegiatan-kegiatan ubudiyah yang sifatnya hanya berorientasi pada kebutuhan memenuhi nafas rohani dan ketuhanan belaka. Akan tetapi, ibadah puasa kita ini juga senantiasa dihiasi dengan perilaku-perilaku pro sosial dan sadar lingkungan sebagaimana amanah yang harus dilaksanakan dalam mengemban tugas sebagai khilafah. Dengan demikian, kiranya tidak ada lagi sebuah hadiah yang bisa menggantikan sebagai ganjaran dalam menjalankan ibadah puasa kecuali kesempurnaan dan diterimanya amal puasa kita oleh Tuhan sehingga kita semua dilahirkan kembali menjadi pribadi yang suci, iedul fitri. Semoga!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: