MENDELUSIKAN GENERASI CINTA BUKU

MENDELUSIKAN GENERASI CINTA BUKU

Oleh AGUS SAKTI

Hari Buku Nasional yang diperingati tanggal 17 Mei bulan lalu menyisakan keprihatinan membaca belum membudaya pada masyarakat Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan imbas dari perkembangan keilmuan yang pesat dan segaris dengan kemajuan teknologi. Kemampuan indera penglihatan dan pendengaran dinilai kurang mumpuni menangkap dalil-dalil pembaharuan. Oleh karena itu dibutuhkan instrumen baru untuk mengambil saripatinya, yaitu membaca.

“Jika orang Jepang tidur sambil membaca, orang Indonesia membaca sambil tidur.” Adegium satiris ini bisa jadi menjelaskan betapa buruk budaya baca masyarakat kita.

Nyata atau tidak, dalam upaya menggali sebuah informasi, masyarakat kita lebih memilih media teknologi berupa televisi dan internet dari pada menjatuhkan hati membaca buku. Alasan mereka cukup sederhana, Informasi dari televisi dan internet lebih mudah diperoleh, singkat, dan lebih aktual (cepat).

Kita semua mengetahui bahwa televisi adalah salah satu produk kemajuan teknologi. Dan, salah satu indikator dari teknologi adalah memudahkan manusia dan memberi kenyamanan. Mendapati sebuah informasi dari televisi adalah sebuah kemudahan dan kenyamanan.

Meskipun demikian, teknologi memendam potensi besar menggiring manusia ke dalam jurang nirmanusiawi, tidak kreatif, tidak kritis, dan pesimistis. Heidegger mengetengahkan bahwa kondisi seperti ini akan mengantarkan manusia pada era ketidakberpikiran (discourse on thinking). Perolehan sebuah informasi dari televisi tanpa menghadirkan referensi, sebuah buku yang cenderung merupakan saduran dari berbagai sumber, dan ketidakjelasan maksud serta gagasan menunjukkan gejala ketidakberpikiran ini.

Selain teknologi, seperti televisi, ponsel, laptop, internet dan Wi-Fi, budaya hedon yang terjadi pada masyarakat kita juga berhasil memutihkan minat baca. Mari kita cermati lingkugan sekitar, pemuda-pemuda kita lebih menyukai hadir ke tempat-tempat keramaian seperti mal, kafe atau selasar pusat perbelanjaan. Kerumunan massa tenggelam dalam keasyikan memencet tombol selular atau memelototi layar komputer jinjing. Membaca buku? Di tengah budaya hedon dan piranti digital seperti sekarang? Emang gue pikirin?!

Belum membaca

Buku merupakan cerminan sebuah peradaban. Semakin banyak buku dikonsumsi, ditelaah, dan diproduksi, umumnya semakin maju pula peradaban sebuah bangsa. Sebuah magnum opus (karya besar) klasik Syarh Kitaab al-Sama’ al-Tabi’I li Aristutalis yang ditulis oleh al-Farabi, misalnya, menjadi pedoman bahasan atas kitab Aristoteles tentang langit dan alam raya.

Ihyaa’ ‘Uluum al-Diin yang ditulis oleh al-Ghazali mampu memulihkan kembali keseimbangan dan keselarasan antara dimensi eksoterik dan esoterik Islam. Syarh Kitaab Maa Waraa’a al-Thabi’ah li Arista karya Ibn Rusyd menjadi komentar atas metafisika Aristoteles.

Di Negara Barat ada Das Kapital-nya Karl Marx yang amat berpengaruh di dunia dan menjadi rujukan banyak Negara Komunis dan Sosialis. Di India ada Mahabharata dan Ramayana. Karya ini tidak hanya menjadi tuntutan penganut agama Hindu di India saja, tapi juga menjadi panutan agama Hindu lain di belahan dunia.

Buku, di samping menawarkan sebuah informasi, di sisi lain menyimpan sebuah kekuatan tersembunyi (hidden power). Berbagai referensi di dalamnya mampu memompa hormon keingintahuan manusia diproduksi lebih banyak dari kadar semula. Alhasil, rasa ingin tahu yang tinggi menempatkan posisi manusia pada skala humanisme. Pembaca lebih kreatif, kritis dan optimis dalam mengembangkan gagasannya. Tak jarang, terobosan-terobosan inovatif lahir dari kepala sang empunya buku.

Selain itu, membaca adalah suatu hal yang sangat urgensi dalam memajukan pribadi manusia karena membaca pada hakikatnya adalah perubahan mental. Meminjam istilah Muhammad al-Fayyadl, ada situasi psikologis-eksistensial yang dialami pengarang, dan dengan begitu ditawarkan kepada pembacanya.

Situasi psikologis ini bisa bermacam-macam, bisa berupa impian, harapan, horor, atau tragedi, misalnya. Yang jelas, buku menjadi media transfer situasi pengarang ke dalam diri pembacanya. Pada gilirannya, ini akan membuat pembaca mengalami perubahan yang dimulai dari cara berpikir dan pengambilan sudut pandang permasalahan. Jadi, belum dikatakan membaca jika seseorang tidak mengalami perubahan.

Usia dini

Roda keilmuan yang bergerak di samping kemajuan teknologi dirasa terlalu cepat bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan manusia. Untuk mendapatinya tidak cukup dengan modal penglihatan dan pendengaran, namun diperlukan instrumen lain yaitu membaca. Dari sini kiranya dapat diambil sebuah konklusi bahwa perolehan sebuah pengetahuan didapati dari perilaku membaca.

Proses membaca dalam terjemahan lain adalah proses belajar, sehingga membangun learning society (masyarakat pembelajar) tidak berbeda jauh dengan membangun reading society (masyarakat pembaca).

Untuk membangun masyarakat pembaca bisa dimulai sejak usia dini. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana lembaga pendidikan melakukan peran dan fungsinya dalam mendidik para siswa memiliki kesadaran membaca buku. Wisata ilmiah seperti mengajak para siswa berkunjung ke toko-toko buku dan perpustakaan kota adalah salah satu rujukan positif.

Memperkenalkan anak lebih dekat dengan buku dengan model story telling pada siswa dinilai mampu menambah pengetahuan, mengembangkan proses berpikir, menumbuhkan kecintaan pada buku, dan pada fase berikutnya akan memupuk kebiasaan membaca.

Generasi cinta buku adalah pemodalan masa depan. Generasi ini pada tahapan selanjutnya mampu membawa peradaban suatu bangsa mengalami perubahan lebih maju. Sudah saatnya bangsa kita bangkit dari keterjerembaban budaya lisan dengan cara mengakrabi sebuah buku karena buku adalah jendela keilmuan dan latar budaya baca. Mudah-mudahan budaya baca mampu menggiring generasi muda ke taman perubahan yang lebih baik.[]

Iklan

7 Tanggapan to “MENDELUSIKAN GENERASI CINTA BUKU”

  1. Mas Sakti, sodaraku di desa kesulitan membeli buku. bagimana dia bisa membuat budaya baca jika beli buku saja tidak bisa. lagian budaya tutur di desa saya teramat kuat. peradabannya pun tidak bisa dikatakan buruk. kita bisa diskusi lanjut kan?

  2. saktiagus Says:

    Ya, terimakasih sebelumnya atas tanggapannya. Tanggapan mas Tomi mengingatkan saya atas artikel M. Dahlan di JP. Dia juga menulis demikian, buku bukan satu-satunya barang yang harus dikultuskan. Budaya tutur yang sampeyan tengahkan juga tidak sedikit membawa kontribusi besar buat negara dan kehidupan kita. sebut saja dongeng wewayang. cerita khas orang jawa ini kerap menjadi sebuah acuan dan pola perilaku. namun, sayang Mas. hal semacam ini tidak terkodifikasi dengan baik sehingga proses pelestariannya tidak berjalan dengan maksimal. yang ada malah bermutasi menjadi sebuah mitos belaka. wah, kok jadi menggurui gini. Sampean bisa melayangkan surat-e ke alamatku. saya tunggu. terimakasih.

  3. nice writing dude…:D btw, gimana kabar dunia persantriannya???

  4. kajiankomunikasi Says:

    Ya, benar mas Agus. Mari kita sambut ajakan mas Agus untuk membaca, “iqra!” …. Salam kenal ya…

  5. Salam kenal juga Mas. Trim komentarnya, saya tunggu gagasannya yang lain 🙂

  6. salam Gus
    kok kayak enteng bgt ya kamu nulisnya..?
    hehe… 🙂

    dulu waktu masih di Darso aku juga lumayan seneng baca buku loh.. sieh.. (tanya Azam kalo g percaya)
    tapi kenapa ya Gus, sekarang aku lebih seneng contek tulisan orang buat ngerjain tugas2 setan yg seabrek tiap minggu?
    kata orang “something is wrong, everyone’s gone…”
    ada yg g bener nieh, ato memang ada tipe orang yg lebih suka contek murni dari pada repot2 mengolah lagi bahan yg dibacanya..

    aneh yo? rasanya hambar… diuber deadline tiap hari…
    dan itu juga yg terjadi pada “mereka”
    piye menurutmu Dap?

  7. Yup, Salam balik nYenk!
    Mungkin perasaanmu ja, aku juga baru ja belajar cara gimana sih caranya ngetik cepat di atas key board. nah, da temenku yang cletuk, coba ja kamu sering nulis2 gt. hehe..

    Sekarang pun kalo nulis aku juga sering mengutip asumsi dan postulat-postulat orang lain. namanya juga belajar, coba ja lihat tulisanku di atas, aku ngutip pernyataannya M. al-Fayyadl. Kebetulan dulu pernah komunikasi.

    Nah, entar kalo da bisa membuat sinesis gagasan baru kita modivikasi karakter menulis kita. Bukan begitu cak?!

    Deadline kuliah kadang juga sering gawe aku pusing. Bukan lantaran apa2, mata kul yang lain juga menuntut hal yang sama. trus mana dulu seng didesekno? Nah, kita kan punya prioritas gawe kepentingan karo kebutuhan kita, to?! kalo ada yang bener2 perlu diprioritaskan, yo monggo cepet2 dirampungno. sebaliknya, kalo tidak, kenapa tidak memenuhi kebutuhan kita yang lain ja?
    KAMU SETUJU?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: